Gimana caranya memburu ide?

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PROSES. Secara kamusis ide berarti: rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan (KBBI, 1988: 319). Pengertian pertama mengarah proses operasional pikiran (otak) dalam merespon sesuatu. Dalam pengertian lebih umum, boleh jadi berarti, sesuatu yang ‘bermain’ di pikiran untuk diformulasikan, dan atau, diwujudkan.
 
Pengertian kedua lebih kepada sesuatu yang telah terformula di pikiran, atau hasil pemikiran. Ide, karena itu, tidak datang tiba-tiba. Bahwa, begitu terpikirkan tentang sesuatu muncul ide, bisa jadi. Tetapi, sebenarnya telah terjadi proses. Sayang alat slow motion pemindai proses kerja otak belum ada.
 
Banyak contoh klasik. “Eurika, Eurika”. Tanpa sadar dia berlari kegirangan … “Aku dapatkan. Aku dapatkan”, katanya dengan ‘pentungnya’ melambai kemana-mana. Mbah kita ini tidak sadar telanjang. Harap maklum. Si mBbah teramat girang. Teka teki tugas Hiero, raja Syracuse, terpecahkan. Mengukur berat emas. Ide didapat dari bak mandi.
 
Archimedes pantas bangga. Kejadian itu, tiga abad sebelum masehi. Memang dalam buku-buku klasik apa yang dialami Archimedes lebih dikategorikan pada ranah penemuan. Tetapi, bukankah penemuan perwujudan ide?
 
Simak kisah mBah Issac Newton. Menurut tuturan Stukeley (Memoirs of Sir issac Newton’s Life, 1752): Setelah makan malam Newton pergi ke taman, berleha-leha duduk sembari menikmati minuman teh. Dalam suasana kontemplatif, sebuah apel jatuh. Mengapa apel jatuh ke tanah? Kog ngak menyamping? Hanya hal jatuhnya apel.
 
Saya ingin menandaskan, ide bukan muncul tiba-tiba. Bahwa bisa jadi muncul seketika, yes. Tetapi, prosesnya bukanlah perkara sederhana. Newton telah lama ‘memikirkan’ alam. Dari jatuhnya buah apel lahir ide yang menjadi landasan ilmu, Teori Gravitasi.
 
Dus, jangan melihat ide sebagai hal yang datang begitu saja, sekonyong-konyong. Penampakkannya bisa jadi sekelabat, durasi ke arah penampakkan itu memerlukan proses. Semakin sesorang memiliki entry behaviore semakin mungkin idenya bak mitraliur.
 
Dengan kata lain, ide bisa diburu. Setidaknya ‘dipersiapkan’. Ah, yang benar, ide kog bisa dipersiapkan. Ya iyalah, kenpa tidak?
 
Pemahamannya begini. Apabila Sampeyan membaca tulisan-tulisan tentang menulis, Insya Allah akan dengan sangat mudah memunculkan ide untuk menulis aneka rupa tulisan. Silahkan dibuktikan.
 
Seseorang yang suka membaca, seksama mengamati apa saja, dijamin dapat pancaran kemudahan ide. Hasil bacaan dan amatan, begitu biasanya, apabila kita memikirkan sesuatu atau melihat sesuatu, tiba-tiba memunculkan ide. Sehari bisa ribuan ide lho menghentak.
 
Apa yang terpikirkan, respon terhadap pindaian alat indera melahirkan gagasan, membuahkan ide, pada dasarnya adalah pematik. Sekali lagi, pemantik ide. Dikatakan pemantik, sebab sebelum ide mencuat telah tersedia sejumlah pengetahaun memadai di ranah pikiran.
 
Logikanya ide bisa diburu. Caranya? Ya, itu tadi, perbanyak timbunan pengetahuan di otak. Kalau pengetahuan memadai, ya bisa jadi diburu pemantik, diburu ide. Saking banyaknya ide, pusing sendiri. Terlalu banyak ide, dalam kaitan menulis, bisa berakibat susah melahirkan ide dalam tulisan, he he.
 
Dus, mari memburu ide dengan menyiapkan beragam pengetahuan di otak. Begitu ada pemantik, ide akan muncul tanpa dapat ditolak. Kalau entry behaviore cekak, ya susah mendapatkan ide. Apalagi, memburu ide. Diri kita dan hal di luar diri kita adalah pemantik ide, sebab ide adalah hasil proses kerja otak atawa buah pikiran.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

sumber – http://webersis.com/2008/07/25/memburu-ide/

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->