Panduan Copyediting Yang Baik dan Benar bagi Para Editor Pemula

Dari beberapa jenis editor yang dikenal dalam dunia penerbitan, yang paling populer adalah copyeditor —sering juga disebut editor kopi atau editor nas.

Copyeditor dengan pekerjaannya copyediting memang menjadi cara paling mudah untuk menjelaskan apa pekerjaan seorang editor. Sebab memang tak banyak juga orang, termasuk bahkan penerbit yang mengerti apa beda seorang copyeditor dengan editor-editor lainnya (seperti right editor atau acquiring editor).

Di Indonesia biasanya disebut tunggal saja yaitu editor, yaitu orang yang melakukan pekerjaan editing naskah, mencari naskah, bernegosiasi, menguruskan perizinan, dan sejumlah pekerjaan lainnya yang sebenarnya spesifik biasa dikerjakan oleh editor-editor jenis tertentu.

Padahal, seorang copyeditor sebenarnya hanya melakukan pekerjaan standar editorial.

Dalam “kasta” editor sebagai jenjang karier, ia termasuk yang paling rendah atau setingkat dengan staf editor jenis lainnya. Namun, ia menjadi garda depan dalam tugas editorial sebagai pembaca dan penilai awal naskah. Dua kegiatan besar yang dilakukan dalam proses copyediting adalah baca pertama (first editing) dan editing mekanik (mechanical editing).

Karena belum populernya editologi diajarkan di Indonesia sama halnya dengan profesi itu sendiri, sering proses copyediting tidak sepenuhnya dipahami dengan baik dan benar oleh editor-editor pemula di Indonesia.

Ada bagian-bagian terlewat, etika yang dilanggar, dan pemahaman akan profesi yang kurang. Untuk itu, lewat tulisan ini saya coba berbagi pengalaman dan juga pandangan tentang copyediting yang baik dan benar. Dengan demikian, para copyeditor dapat bersikap profesional dalam menyikapi sebuah naskah, perkembangan teknologi, maupun tren penerbitan buku.

Saya mulai dari dua kegiatan besar copyediting tadi.

1. Baca Pertama

Baca pertama dilakukan pada naskah (hardcopy) untuk menilai kekuatan ataupun kelemahan naskah. Pada proses baca pertama, seorang copyeditor dapat membubuhkan tanda-tanda koreksi maupun tanda tanya untuk mengoreksi naskah. Pada tahap ini pula seorang copyeditor dapat memeriksa kelengkapan naskah, teknik penyajian, dan kesesuaian naskah dengan gaya selingkung (house style) penerbit.

Dengan kemajuan komputer sekarang, banyak juga penulis/pengarang menyertakan softcopy naskah dalam bentuk file. Kekeliruan utama copyeditor adalah jika ia mencoba melakukan baca pertama lewat naskah softcopy ini melalui media komputer. Akurasi membaca di layar monitor komputer tidaklah akan sebaik membaca naskah tercetak karena mata manusia memiliki keterbatasan. Hal ini kerap terjadi pada editor-editor pemula yang menganggap bekerja langsung dengan cara “emon” (edit monitor—istilah baru para editor) adalah cara yang paling efektif dan modern. Padahal, kerap terjadi terlewatnya kekeliruan naskah atau hilangnya konsentrasi baca karena kelelahan mata.

Proses baca pertama ini penting dan tidak boleh dilewatkan untuk dapat menakar kualitas naskah. Yang perlu dipahami bahwa saat baca pertama, seorang copyeditor jangan terlalu berkonsentrasi mencari kesalahan naskah (seperti EYD, kalimat, ataupun kebenaran fakta). Namun, yang dilakukan adalah proses memaknai naskah.

Jika digambarkan dengan segitiga, prosesnya: baca pertama-pahami-maknai. Jadi, seorang copyeditor harus dapat menemukan “benang merah” dari naskah. Seutas “benang merah” naskah dapat ditemukan apabila naskah tersebut dapat menjawab pertanyaan berikut ini:

1. Apakah isi naskah sesuai dengan visi dan misi penerbit?

2. Apakah naskah memenuhi syarat penampilan fisik yang ditetapkan penerbit?

3. Apakah naskah memiliki kelengkapan anatomi naskah?

4. Apakah naskah menyajikan topik menarik (unik, belum pernah dibahas, lebih lengkap, kontroversi, dsb.)?

5. Apakah pola penulisan naskah sudah sesuai dengan gaya selingkung penerbit?

6. Apakah bahasa yang digunakan pada naskah sudah sesuai dengan kaidah bahasa yang standar?

7. Apakah maksud atau pesan penulis/pengarang akan mudah tertangkap oleh pembaca?

Pertanyaan-pertanyaan tadi dapat saja ditambahkan lagi oleh penerbit atau para copyeditor untuk mendeteksi kelayakan terbit sebuah naskah.

Jadi, inti baca pertama adalah menilai naskah, bukan untuk mengoreksinya. Adapun pembubuhan tanda-tanda koreksi berguna untuk melihat seberapa besar kekeliruan yang ditemukan dalam naskah ketika dibaca. Naskah yang mengandung banyak kekeliruan tentu akan mendapatkan catatan khusus.

Jika kemungkinan besar naskah dianggap bagus dan layak untuk diterbitkan, seorang copyeditor sebaiknya sudah bisa membayangkan bagaimana naskah tersebut nantinya dibuat. Di sinilah pengetahuan editor tentang spesifikasi produksi buku, desktop publishing dan desain komunikasi grafis sangat diperlukan. Copyeditor harus memiliki gagasan pengemasan buku yang nantinya dapat disarankan kepada para penulis/pengarang dan juga kepada managing editor atau chief editor.

Dalam praktik di penerbit-penerbit Indonesia, terkadang tugas copyeditor yang terakhir ini dibelenggu oleh asumsi bahwa mereka hanya tukang ngedit belaka. Mereka dibuat hanya peka pada kekeliruan dalam naskah dan memperbaikinya, tetapi menjadi tidak peka bagaimana buku itu kelak jadinya. Akibatnya, editor-editor seperti ini kadang hanya menggunakan otak kiri mereka (logika, kebenaran data dan fakta, keterbacaan, kebenaran teori) tanpa mengaktifkan otak kanan (empati, kreativitas, inovasi).

2. Editing Mekanik

Editing mekanik adalah proses selanjutnya setelah naskah dinyatakan layak lewat proses baca pertama. Disebut mekanik karena editing dilakukan secara manual oleh para copyeditor dengan cara membubuhkan tanda-tanda koreksi ke dalam naskah cetak coba atau pruf (naskah yang sudah diset dan dilayout selayaknya halaman buku). Secara standar editing mekanik ini dilakukan dengan dua sampai tiga kali editing pruf.

Untuk kerja ini copyeditor dianjurkan menggunakan bolpoin berwarna cerah, kertas post-it untuk menempelkan perbaikan kalimat atau paragraf, spidol pewarna (stabillo) untuk menandai kata atau kalimat khusus, dan tanda-tanda koreksi yang disepakati atau telah menjadi gaya selingkung penerbit. Copyeditor sebaiknya tidak menggunakan pensil karena memperlihatkan rasa tidak percaya diri dan juga sulit untuk dilihat. Pun tidak dianjurkan menggunakan tanda-tanda koreksi yang tidak standar karena dapat menimbulkan miscommunication dengan layouter.

Sekali lagi dalam proses editing mekanik ini kerap copyeditor juga mengambil jalan pintas dengan melakukan edit monitor. Cara ini sangat tidak dianjurkan meskipun tampaknya akan lebih cepat. Pertama, copyeditor akan mengambil alih tugas layouter yang mungkin juga malah mengambil alih penggunaan alat kerjanya. Kedua, editing jenis ini diragukan akurasinya karena banyak kata atau kalimat yang bisa terlewat, apalagi kalau harus melakukan editing berat akan sangat berbahaya kalau tidak piawai menulis.

Dalam proses editing mekanik inilah seorang copyeditor menjaga betul 7 aspek editing yang terkenal itu:
1) keterbacaan dan kejelasan;
2) konsistensi;
3) kebenaran bahasa;
4) gaya penulisan;
5) ketelitian fakta dan data;
6) legalitas dan kesopanan;
7) rincian produksi.

Memang pada praktiknya menjaga 7 aspek tadi sangatlah berat dan memerlukan kemampuan ekstra seorang copyeditor. Karena itu, layak juga kalau dalam dunia editor ada istilah “jam terbang” untuk menilai tingkat kepiawaian seorang editor.

Nanti mungkin akan tiba masa seorang copyeditor harus melakukan editing berat. Herman Holtz dalam bukunya yang sangat inspritatif How to Start and Run Writing and Editing Business menyatakan bahwa sangat tipis perbedaan antara editing berat dengan penulisan ulang (rewriting). Dalam konteks ini seorang copyeditor harus mendalami dahulu gaya bahasa penulisan, baru melakukan editing berat atau penulisan ulang—dalam arti mengubah beberapa kalimat atau satu paragraf dari naskah. Haruskah perubahan ini dikonsultasikan? Sebaiknya diberi tahu dan dikonsultasikan dengan penulis/pengarang yang bersangkutan agar copyeditor dapat tetap menjaga otoritas sang penulis/pengarang sembari menawarkan saran perbaikan.

Hasil editing mekanik berupa pruf terkoreksi harus disimpan dengan baik oleh copyeditor sampai pruf terbit menjadi buku dan sudah dipastikan aman. Ingat, penghilangan naskah baik sengaja maupun tidak sengaja oleh editor dianggap pelanggaran kode etik editing, termasuk penghilangan bukti editing pruf. Hasil editing tersebut nantinya dapat dijadikan bahan penyelidikan apabila dilakukan penelusuran terhadap kekeliruan di dalam buku. Pruf terkoreksi menjadi bukti dan fakta nyata apabila ditemukan kekeliruan pada buku yang mungkin disebabkan oleh keteledoran editor, keteledoran layouter/desainer, atau keteledoran petugas pracetak dan percetakan.

PRINSIP YANG HARUS DIPEGANG

Prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang copyeditor adalah 4C, yaitu kejelasan (clarity), keterkaitan (coherency), ketaatasasan (concistency), dan kebenaran (correctness).

Jadi, perlakukan naskah sebagaimana mestinya dengan tujuan menjadikan naskah tersebut benar-benar dapat dibaca, dipahami, dan menggerakkan pikiran pembacanya. Alhasil, pekerjaan seorang copyeditor tidak bisa dianggap remeh dengan alasan waktu ataupun naskah ditulis oleh seorang penulis/pengarang terkenal. Seorang copyeditor harus benar-benar profesional dengan melakukan persiapan matang dalam editing naskah.

Ada kalanya seorang copyeditor dibebani tugas mengedit dua naskah sekaligus. Bagaimana ia bisa menyikapi hal ini? Di sinilah seorang editor atau copyeditor itu dituntut kemampuan mengelola waktu, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Karena itu, editor tidak hanya perlu cerdas intelektual, tetapi juga cerdas emosional. Ia harus bisa berkomunikasi dengan baik sehingga para penulis/pengarang tidak akan mempersulit dia, editor ahli mau memberi tahu dia, dan layouter senang mengikuti saran-sarannya.

Di sinilah asumsi bahwa editing atau copyediting itu sebenarnya juga sebuah seni. Buku yang baik tentu berasal dari hasil copyediting yang baik dan benar serta ditambah citarasa seni sang copyeditornya mengelola naskah hingga menjadi buku. Setiap buku memang pasti akan memiliki riwayat penyuntingannya masing-masing. Dan buku yang baik dengan riwayat penyuntingan yang membanggakan tentu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi copyeditor walau namanya tidak terangkat setinggi nama penulis/pengarangnya.

Demikianlah meskipun bidang profesinya tidak terkenal, sulit sebenarnya menjadi seorang copyeditor yang baik dan benar alias piawai. Copyeditor harus tidak melewatkan kesempatan mengedit naskah sebagai ujian kemampuan bagi jam terbangnya. Semoga tulisan ini sedikit banyaknya bisa membagi pencerahan itu.[]


*Oleh Bambang Trim
Pemateri Pelatihan Professional Editing yang diselenggarakan oleh Sekolah-Menulis.com

**naskah ini ditulis ulang dari: www.danielcmahendra.wordpress.com/2007/05/01/copyediting-yang-baik-dan-benar

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->