Kejujuran Dalam Menulis

Kejujuran Dalam Menulis

“Jujur pada tulisan”, kurang lebih seperti itulah perkataan Samuel Mulia malam itu.

Sosok yang lebih aku kenal melalui kolom parodi Harian Kompas tiap edisi Minggu. Tulisannya ringan, berbicara tentang hal-hal yang terjadi di sekitar kita, tetapi sebetulnya punya kekuatan tampar yang kuat, atau untuk seorang Samuel lebih tepat dikatakan punya daya silet yang supertajam.

Dia memuji Tuhan karena pernah mengalami semua hal yang negatif. Tidak ada yang dia tutup-tutupi dari perjalanan hidupnya. Semua diungkapkan dalam bahasa yang lugas, gamblang, atau bahkan vulgar. Pilihan kata yang dipilih bisa membuat orang rikuh atau gelisah. Urusan main dengan suami orang, menurut Samuel adalah hal yang paling enak. Dia juga sempat menganut anal ampun; setelah melakukan anal tinggal minta ampun pada Tuhan. Ini adalah sebagian hal negatif yang dia lakukan sebelum dia diperbarui.

Ya, seorang Samuel adalah orang yang sudah diperbarui. Ia kini hidup dalam kebenaran, karena itu ia selalu jujur terhadap tulisan dan tidak mengkhayal. Ia rela melakukan itu. Ia sering memosisikan dirinya sebagai korban dalam tulisan-tulisannya. Menanggapi pertanyaan Ei, ia berkata bahwa ia memang pernah menjadi korban dan karena itu ia ingin menyampaikan pesan untuk jangan pernah menjadi korban.

Dia menulis dengan bahasa yang mudah dimengerti. Tulisannya pasti menimbulkan berbagai komentar, dan pasti ada komentar tidak enak, pedas, atau salah kaprah. Ketika ditanya Nenden, “Bagaimana “you deal with it”, menanggapi para komentator dadakan itu?” Samuel berkata, “You don”t deal with it.” Menulislah dengan kejujuran, tanpa peduli bagaimana tanggapan orang. Ancaman juga bukan sesuatu yang perlu ditakuti, dan dia mengingatkan bahwa ancaman sesungguhnya hal biasa, yang dihadapi oleh berbagai profesi, bukan saja penulis, kan!

Menurut Samuel, tulisan kita mencerminkan diri kita. “We (tulisan kita) represent our personality”. Orang seharusnya bisa melihat kita melalui tulisan kita, atau lebih tepat lagi, lewat tulisan kita, orang bisa melihat kepribadian kita. Untuk itu, seorang penulis harus menemukan dirinya. Buat dia, tidak ada alasan karena pemula, maka seseorang harus meniru dan mencontek gaya penulis tenar. Lupakan itu semua. Ia mengagumi Tohari, tapi toh tulisan Samuel jelas bukan tulisan Ahmad Tohari. Serupa pun tidak.

Buka mata, buka telinga. Belajar untuk sensitif. Belajar untuk menjadi lebih peka dengan sekitar kita. Tidak ada yang perlu diperbuas karena terlalu sederhana. Tidak perlu dibuat-buat untuk membuat sesuatu hal tidak terlalu sederhana. Tetapi cobalah melihat dari cara yang lain. Geser pantat sedikit untuk bisa menemukan cara baru membuat “blackforest”. Mengapa tidak? Kita tidak boleh terlalu malas untuk “geser pantat”, karena itu bisa memberi pemandangan yang berbeda, padahal kita sebetulnya masih berbicara tentang hal yang sama. Bikin “blackforest” memang ada resep baku, tapi apa salahnya menemukan cara baru membuat “blackforest”, kan?

Ini juga perlu, untuk membuat diri kita tidak sama dengan orang lain. Tulisan jadi dibaca! Ah, Samuel Mulia ternyata bukan saja pintar memakai kata-kata, tetapi juga pintar memasarkan diri sendiri. Menciptakan merek, yaitu “Samuel Mulia”.

Padahal, lebih dari satu kali dia berkata bahwa dia itu bodoh. Buku-buku terkenal lebih banyak menjadi “interior design” ketimbang dibaca. Punya penyakit lupa ingatan dan menghindari jargon-jargon yang tidak dia mengerti. Berbicara pun banyak memakai istilah-istilah yang “yuk, yak, yuuuk”. Tetapi, ah, sulit membayangkan kebodohan dari Samuel Mulia yang keluaran sekolah kedokteran itu!

Buat aku, Samuel sama sekali tidak bodoh, tetapi sungguh rendah hati. Di balik ketajaman omongan seorang Samuel, ia menulis dengan niat yang tulus. Karena dia menulis dalam terang. Menurut Samuel, di dalam gelap kita tidak bisa melihat apa-apa. Kejujuran dan kebenaran membuat kolom parodi menjadikan pembaca “naik kelas” dan bukan “turun kelas”. Iya kan, kita tidak merasa menjadi manusia bodoh ketika membaca tulisan-tulisannya, walaupun barangkali sebetulnya Samuel tengah membodohi-bodohi kelakuan kita dengan kata-kata.

Dua jam yang menyenangkan bersama Samuel dan teman-teman. Pada akhirnya, mengenai tulisan dia berkata, “At end of the day, it comes from the heart”, dan ya, Samuel — menurutku — memang punya hati yang mulia.
—————————
http://pelitaku.sabda.org/silet_kejujuran

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->