Keterampilan Berbahasa (II)

Keterampilan Berbahasa (II)

Oleh: J. Haryadi

Keterampilan berbahasa sangat diperlukan oleh seorang penulis karena dapat mendukung kelancaran menulisnya.

Mengenal kalimat aktif dan pasif

a. Kalimat Aktif
Definisi : Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai aktor atau pelaku.

Contoh :
 Saya menolong orang itu.
 Mereka mendaki gunung selama satu minggu.
 Ayah membaca terus-menerus sampai larut malam.

Kalimat aktif ada dua macam, yaitu aktif transitif dan aktif intransitif. Kalimat aktif yang predikatnya dapat diberi objek dinamakan kalimat aktif transitif, dan bila tidak dapat diberi objek disebut kalimat aktif intransitif.

Contoh :
 Tukang kayu mengecat pintu. (aktif transitif)
 Handoko menendang bola. (aktif transitif)
 Mobil itu menepi. (aktif intransitif)
 Burung-burung itu terbang. (aktif intransitif)

b. Kalimat Pasif
Definisi : Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita (dikenai tindakan).
Contoh :
 Surat itu sudah kubaca dua kali.
 Semua tembok akan dicat lagi.
 Sepatunya disemir sampai mengkilat.

3. Mengenal tanda baca

a. Titik
Titik atau perhentian akhir biasanya dilambangkan dengan (.) biasanya dipakai untuk :

 Menyatakan akhir dari sebuah tutur atau kalimat.

Contoh :
 Hewan kurban itu telah di sembelih semua.
 Jangan selalu mengikuti kehendak orang lain.
 Berlari mengerjar layang – layang.

Karena kalimat tanya dan kalimat perintah atau seru mengandung pula pengertian perhentian akhir, yaitu berakhirnya tutur, maka tanda tanya dan tanda seru yang digunakan dalam kalimat-kalimat tersebut selalu
mengandung sebuah tanda titik.

Contoh :
 Apa yang hendak kamu cari?
 Mengapa orang tersebut dapat sukses?
 Dimana harta karun itu berada?

 Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan singkatan kata atau ungkapan yang sudah lazim.
Pada singkatan kata yang sudah terdiri dari tiga huruf atau lebih yang dipakai satu titik.

Contoh :
 a.n. (atas nama)
 Dr. (Dokter)
 H. (haji)
 Ir. (Insinyur)
 u.b (untuk beliau)
 Kol. (Kolonel)
 dkk. (dan kawan-kawan)
 M.Sc. (Master of Science)
 dll. (dan lain-lain)
 S.H. (Sarjana Hukum)
 dst. (dan seterusnya)
 Drs.(Doktorandus)
 tsb. (tersebut)
 M.A.(Master of arts)
 Yth. (yang terhormat)
 Spd. (sarjana pendidikan)

Semua singkatan kata yang menggunakan inisial atau akronim tidak menggunakan titik, misalnya seperti :
 DPR, MPR, ABRI, Hankam, Kopkamtib, ampera, Lemhanas, dsb.

 Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menunjukkan jumlah; juga dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan titik.

Contoh :
 10.000
 125.000
 pukul 5.45.42 (pukul lima 45 menit 42 detik)
 pukul 02.00 (pukul 2 tepat)

b. Koma
Koma atau perhentian antara yang menunjukkan suara menarik ditengah-tengah tutur, biasanya dilambangkan dengan tanda (,). Disamping untuk menyatakan perhentian antara (dalam kalimat), koma juga dipakai untuk beberapa tujuan tertentu.
Tanda koma dapat dipakai dalam hal-hal berikut :

 Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat, antara kalimat setara yang menyatakan pertentangan, antara anak kalimat dan induk kalimat, dan antara anak kalimat dan anak kalimat.

Contoh :
 Amiir sudah bernagkat ke kampus pagi–pagi, tetapi ia masih saja tertinggal kereta. Mereka bukan mengerjakan apa yang diperintahkan, melainkan bermalas-malasan.
 Ada berbagai macam sayuran di kebun diantaranya sawi, kangkung, bayam, brokoli.

 Koma digunakan untuk menandai suatu bentuk parentetis (keterangan-keterangan tambahan yang biasanya ditempatkan juga dalam kurung) dan unsur-unsur yang tak restriktif :

Contoh :
 Pertama, tulislah nama, NPM dan kelas.
 Kedatangannya, seperti yang diinginkan dari dulu, tidak disambut dengan upacara besar-besaran.

 Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat mendahului induk kalimatnya, atau untuk memisahkan induk kalimat dengan sebuah bagian pengantar yang terletak sebelum induk kalimat.

Contoh :
 Bila matahari terik, ibu akan menjemur kerupuk.
 Karena senang, ia pergi berkeliling menggunakan sepeda.
 Sebagai pembaca doa, maka kami persilahkan untuk maju ke atas panggung.

 Koma digunakan untuk menceraikan kata yang disebut berturut-turut :

Contoh :
 Pak Burno membeli segulung tali, selembar papan triplek dan 1 sak semen.

 Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan transisi yang terdapat pada awal kalimat. misalnya : jadi, oleh karena itu, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi, disamping itu, dlsb.

Contoh:
 Kalaupun sulit, tetap saja apabila belajar akan menjadi mudah di pahami.

 Koma selalu digunakan untuk menghindari salah baca atau keragu-raguan.

Contoh:
 Meragukan : Dijalan raya kelihatan ramai.
 J e l a s : dijalan raya, kelihatan ramai.

 Koma dipakai untuk menandakan seseorang yang diajak bicara.

Contoh:
 Saya berharap, anak saya menjadi anak yang berbudi baik.

 Koma dipakai juga untuk memisahkan aposisi dari kata yang diterangkan.

Contoh:
 Presiden Soekarno adalah presiden pertama Indonesia, dia berjuang dengan sekuat tenaga.

 Koma dipakai untuk memisahkan kata-kata afektif seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari bagian kalimat lainnya.

Contoh:
 Aduh, betapa senangnya dapat nilai bagus.
 Wah, sungguh indah pemandangan itu.

 Tanda koma dipakai untuk memisahkan sebuah ucapan langsung dari bagian kalimat lainnya.

Contoh:
 Kata ayah, “saya akan menangani semua masalah yang ada”.

 Koma digunakan juga untuk beberapa maksud berikut :
 Memisahkan nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tinggal.
 Menceraikan bagian nama yang dibalikkan (untuk ferensi, misalnya).
 Memisahkan nama keluarga dari gelar akademik.
 Untuk menyatakan angka desimal.

Contoh :
 Apabila anda ingin bertemu dengan saya, harap melapor ke bagian : personalia.
 Veronia, Kamila (namanya sebenarnya Kamila Veronika)

c. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan berupa seruan atau perintah atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

Contoh :
 Jangan ganggu anak itu!

d. Tanda Titik Koma (;)
Fungsi dan pemakaian titik koma adalah :
 Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis atau setara
 Memisahkan kalimat yang setara didalam satu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

e. Tanda Titik Dua (:)
Tanda Titik Dua digunakan dalam hal-hal sebagai berikut :
 Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
 Pada kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian
 Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan
 Di antara jilid atau nomor buku/ majalah dan halaman. antara bab dan ayat dalam kitab suci, atau antara judul dan anak judul suatu karangan.

Contoh :
 Nama – nama burung : pipit, rajawali, elang, kasuari.

f. Tanda Hubung (-)
Tanda hubung dipakai dalam hal-hal seperti berikut :
 Menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris,
 Menyambung unsur-unsur kata ulang
 Merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing

Contoh :
 Air yang jatuh dari langit disebut air hu-
jan.

g. Tanda Kurung ( )
Tanda kurung dipakai dalam hal-hal berikut :
 Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan
 Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian pokok pembicaraan
 Mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan

Contoh :
 Dapat (bisa)
 Emapt (empat).

h. Tanda Kurung Siku ( {..} )
Tanda kurung siku digunakan untuk :
 Mengapit huruf, kata atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada akhir kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
 Mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.

Contoh :
 Himpunan A {1,2,3,4}.

i. Tanda Petik (“…”)
Fungsi tanda petik adalah :
 Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah atau bahan tertulis lain.
 Mengapit judul syair, karangan, bab buku apabila dipakai dalam kalimat.
 Mengapit istilah kalimat yang kurang dikenal.

Contoh :
 Ibu berkata “jangan main jauh-jauh”.

j. Tanda Petik Tunggal (‘..’)
Tanda Petik tunggal mempunyai fungsi :
 Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
 Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

Contoh :
 File tersebut harus di ‘save’ di dalam folder yang baru.

k. Tanda Garis Miring (/)
Tanda garis miring dipakai untuk :
 Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
 Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat.

contoh:
 IV/III/2012 (nomor surat 4, bulan 3 tahun 2012).

l. Tanda Penyingkat (Apostrof) (‘)
Tanda Apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.

4. Mengenal kata penghubung
Kata penghubung adalah kata yang berfungsi menghubungkan satu kata dengan kata lainnya dalam sebuah kalimat atau menghubungkan kalimat satu dengan kalimat dalam sebuah paragraf.

a) Kata Penghubung Intrakalimat
Kata penghubung intrakalimat yaitu kata yang menghubungkan kata dengan kata dalam sebuah kalimat.

Contoh :
 dan
 atau
 tetapi
 sesudah
 jika
 agar
 supaya
 dengan
 bahwa
 karena
 ketika
 maka
 sedangkan
 hingga
 meski
 lalu
 sambil
 serta
 apabila
 lagi pula
 andaikata
 sebab
 sebelum
 selama
 sehingga
 seandainya
 sekiranya
 melainkan
 semenjak
 andaikan
 bagaikan
 asalkan
 jangankan
 walaupun
 meskipun
 kendatipun
 lagi
 hanya
 sekalipun
 sungguhpun
 melainkan
 sampai-sampai
 tatkala
 kecuali
 seraya
 sambil

Contoh penerapannya dalam sebuah kalimat:
 Semua usaha sudah ia lakukan, tetapi hasil yang ia dapat belum memuaskan.
 Ani bukan seorang pecandu masakan Padang, melainkan pecandu masakan Palembang.
 Ia sadar bahwa manusia hanya bisa berusaha.
 Ketika semua telah terjadi, barulah penyesalan itu datang.
 Kamu terlalu gemuk sampai-sampai motorku seperti mau patah.

b) Kata penghubung korelatif
Kata penghubung korelatif adalah kata penghubung yang menghubungkan dua kata, frase, atau klausa, yang mengandung kedudukan sama.

Contoh :
 baik… maupun….
 …tidak…tetapi….
 …bukan…melainkan….
 makin…makin….
 kian…kian….
 sedemikian rupa…sehingga….
 tidak hanya…tetapi juga….

Contoh penerapannya dalam sebuah kalimat :
 Baik yang ia katakan maupun yang ia lakukan telah dimaafkan oleh penguasa.
 Tanah itu tidak berfungsi bagi orang Dayak, tetapi bagi orang Madura bisa dimanfaatkan untuk membuat batu bata.
 Pak Amin bukan seorang petani, melainkan pemilik lahan.
 Sedemikian rupa ia merancang kegiatan itu, sehingga sangat sulit ditemukan kekurangannya.

c) Kata penghubung antarkalimat
Kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menjadi penghubung antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya dalam satu paragraf. Dengan adanya kata penghubung ini, kalimat menjadi lebih padu.

Contoh:
 akan tetapi
 namun
 oleh karena itu
 jadi
 dengan demikian
 meskipun begitu
 lagi pula

Kata penghubung antarkalimat ini penulisannya didahului tanda koma.

Contoh penerapannya dalam sebuah kalimat:
 Tidak ada pendekatan paling pas untuk mengarahkan remaja. Akan tetapi, pendekatan hati yang dilakukan orang tua bisa mencapai hasil paling baik.
 Ia telah bekerja keras. Siang malam ia mencari uang untuk sekolah anaknya. Oleh karena itu, tidak ada anaknya yang tidak berhasil.
 Orang itu sangat sensitif. Ini tidak baik. Segala sesuatu yang berlebihan cenderung negatif. Lagi pula, sifat sensitif tidak tepat untuknya karena ia seorang lelaki.
 Kamu tidak pantas berbicara seperti itu. Kamu terlalu memperturutkan emosi. Meskipun begitu, kamu masih bisa meminta maaf kalau berjumpa lagi dengannya.
 Ia sudah pergi jauh. Tak ada niatnya untuk kembali ke kampung halaman. Namun, semua yakin ia tidak akan bisa melupakan kedua orang tuanya.

5. Kalimat berita positif dan negatif
Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan atau melakukan sesuatu. Kalimat berita dibagi menjadi dua, yaitu kalimat berita positif dan kalimat berita negatif.

a. Kalimat Berita Positif
Kalimat berita positif adalah kalimat berita yang isinya menyatakan sesuatu yang positif.

Contoh :
 Di tingkat nasional maupun internasional, Indonesia diminta untuk mengambil langkah-langkah penanganan keselamatan jalan secara komprehensif.
 Budaya sains perlu ditumbuhkan.
 Andini belajar setiap hari.
 Pesawat terbang presiden dirancang secara khusus.

b. Kalimat Berita Negatif
Kalimat berita negatif adalah kalimat berita yang isinya menyatakan sesuatu yang negatif. Kalimat berita negatif biasanya ditandai dengan kata tidak, bukan, dan belum.

6. Kata Bersinonim, Berantonim, Berhomonim, Berhomograf, Berhomofon, Berhiponim, dan Berpolisemi.

a. Kata yang Bersinonim
Sinonim adalah suatu kata yang mempunyai makna yang sama dan dapat saling menggantikan.

Contoh :
 benar = betul

Contoh dalam kalimat :
 Jawaban Anda benar.
 Jawaban Anda betul.

Sering juga terdapat kata-kata yang awalnya bermakna sama, tetapi kemudian menjadi berbeda makna karena pengaruh makna konotasi yang terkandung dalam kata itu.

Contoh :
 Kata buruh, pegawai, karyawan.
Kata-kata jenis ini termasuk kata bersinonim yang bernuansa.

b. Kata yang Berantonim
Antonim maksudnya adalah kata yang berbeda atau berlawanan maknanya. Jenis-jenis kata antonim ini dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu :

Antonim kembar, yaitu antonim yang melibatkan bertentangan antara dua kata.

Contoh :
 hidup >< mati 69  Antonim majemuk, yaitu antonim yang melibatkan pertentangan antara banyak kata.

Contoh :
 Sepatu itu tidak merah.
Oleh karenanya, kalimat itu mencakup pengertian bahwa sepatu itu putih, sepatu itu cokelat, dan sebagainya.

Antonim gradual, yaitu pertentangan dua kata dengan melibatkan beberapa tingkatan.

Contoh :
 Rumah itu sederhana.
Contoh kalimat di atas bisa bermakna: tidak mewah dan sangat sederhana.

Antonim hierarkis, yaitu pertentangan antara kata-kata yang maknanya berada dalam posisi bertingkat.

Contoh :
 Januari-Februari-Maret, April, dan sebagainya.

Antonim relasional, yaitu pertentangan antara dua buah kata yang kehadirannya saling berhubungan.

Contoh :
 suami-istri

c. Kata Berhomonim
Kata berhomonim adalah kata-kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda.

Contoh :
 kata genting

Contoh dalam kalimat :
 Karena terjadi kerusuhan, Kota Ambon dalam keadaan genting. (gawat)
 Ayah sedang memperbaiki genting yang bocor. (atap)

d. Kata yang Berhomograf
Kata yang berhomograf adalah kata-kata yang tulisannya sama tetapi pelafalan dan maknanya berbeda.

Contoh :
 kata apel

Contoh dalam kalimat :
 Adik suka makan buah apel.
 Karyawan itu wajib mengikuti apel pagi.

e. Kata yang Berhomofon
Kata yang berhomofon adalah kata-kata yang cara pelafalannya sama tetapi penulisan dan maknanya Berbeda.

Contoh :
 kata bang

Contoh dalam kalimat :
 Bang Yogi naik sepeda motor.
 Ayah pergi ke bank untuk menyetor tabungan.

f. Kata yang Berhiponim
Kata yang Berhiponim adalah kata-kata yang mempunyai hubungan antara makna spesifik dan makna generik.

Contoh:
 ayam, kucing, kelinci, kuda merupakan hiponim dari hewan
 melati, mawar, anggrek, kenanga merupakan hiponim dari bunga

g. Kata yang Berpolisemi
Kata yang berpolisemi adalah kata-kata yang menanggung beban makna yang begitu banyak.

Contoh :
 kata kepala.
Dari kata kepala ini dapat dijabarkan menjadi berikut ini :
 Bagian atas suatu benda.

Contoh:
 kepala surat.

Sebagai kiasan atau ungkapan.

Contoh:
 kepala batu.
 Berarti pemimpin.

Contoh:
 kepala negara.

7. Macam-macam kata ulang (reduplikasi)
Kata ulang atau bentuk ulang disebut juga reduplikasi (dalam bahasa Inggris “reduplication” yang berarti pengulangan).

Kata ulang dapat diartikan juga sebagai kata jadian yang dibentuk dengan pengulangan kata atau kata yang
terbentuk kerena proses reduplikasi.

Keraf (1991:149) mendefinisikan bentuk ulang sebagai sebuah bentuk gramatikal yang berwujud penggandaan sebagian atau seluruh bentuk dasar sebuah kata. Dalam Bahasa Indonesia terdapat bermacam-macam bentuk ulang. Pengulangan dapat dilakukan terhadap kata dasar, kata berimbuhan, maupun kata gabung.

a. Ciri-ciri Kata Ulang
Kata ulang mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu:

1.) Mempunyai dasar perulangan
Contoh:
 Besar-besar.
Dasar perulangnnya adalah besar.

2.) Terdiri dari dua morfen atau lebih yang menjadikan dasar ulangannya boleh morfen dasar, boleh bentuk kompleks (lengkap).

Contoh:
 Meja-meja.
Dasar pengulangannya berupa morfen dasar yaitu meja.
 Kemerah-merahan.
Bentuk pengulangannya berupa bentuk kompleks (lengkap dengan imbuhannya) yaitu merah.

b. Pembagian Kata Ulang
Kata ulang dapat ditinjau dari segi bentuk dan fungsinya, yaitu :

1.) Bentuk kata ulang
Bentuk kata ulang dibedakan menjadi:

a.) Kata ulang utuh atau kata ulang penuh atau kata ulang murni atau disebut juga dwilingga. Adapun yang termasuk golongan kata ulang ini ialah semua bentuk kata ulang hasil perulangan kata secara utuh, sepenuhnya.

Contoh :
 Teman-teman
 Negara-negara
 Duduk-duduk
 Lari-lari

b.) Kata ulang berimbuhan atau sering disebut juga kata ulang bersambungan. Adapun yang termasuk didalamnya ialah semua jenis perulangan kata yang salah satu unsurnya mendapatkan imbuhan, bisa awalan (prefiks), akhiran (sufiks), sisipan (infiks), konfiks (per-an, ke-an) atau
mendapat imbuhan afiks kombinasi (di-kan, di-i, ber-kan).

Contoh :
 memukul-mukul
 mobil-mobilan
 tali-temali
 perundang-undangan
 diamat-amati
 berdesak-desakan

c.) Kata ulang berubah bunyi atau disebut juga dwilingga saling suara. Adapun yang tergolong jenis kata ulang ini ialah semua bentuk perulangan kata yang salah satu unsurnya berubah bunyinya. Yang mengalami perubahan bunyi bisa unsur pertama kata ulang tersebut, bisa juga unsur kedua. Perubahan bunyi pada jenis kata ulang ini, bisa bunyi vokal yang berubah, bisa juga bunyi konsonan.

Contoh:
– berubah bunyi unsur pertama: bolak-balik, colak-colek
– berubah bunyi unsur kedua: hina-dina, serba-serbi
– berubah bunyi vokal : mondar-mandir, gerak-gerik
– berubah bunyi konsonan: lauk-pauk, sayur-mayur 74

d.) Kata ulang yang disebut dwipura, yaitu jenis kata ulang yang mengalami perulangan hanya pada suku pertama kata aslinya.

Contoh proses terjadinya dwipura:
 sama (kata dasar), sama-sama (kata ulang utuh/dwilingga), sesama (dwipura).
 laki (kata dasar), laki-laki (kata ulang
utuh/dwilingga), lelaki (dwipurwa).
Berdasarkan contoh proses terjadinya dwipura diatas, bentuk-bentuk dwipura lainnya adalah seperti:
 leluasa, pepohonan, dedaunan dan lain-lain.

2.) Fungsi atau makna kata ulang
Dilihat dari jenis katanya kata ulang dapat di kelompokkan menjadi :

a.) Perulangan kata benda
Kata ulang yang kata dasarnya kata benda, mengandung makna:

 Mengandung arti bermacam-macam
Misalnya:
 Biji-bijian
 Pohon-pohonan
 Tanam-tanaman

 Mengandung arti menyerupai atau seperti yang tersebut pada kata dasarnya.
Misalnya:
 Mobil-mobilan
 Langit-langit
 Orang-orangan

 Mengandung arti banyak
Misalnya:
 rumah-rumah
 anak-anak
 Ibu-ibu

b.) Perulangan kata kerja
Kata ulang yang kata dasarnya kata kerja, mengandung makna:
 Suatu pekerjaan dilakukan berkali-kali atau berulang-ulang.
Misalnya:
 Mengetuk-ngetuk
 Berteriak-teriak
 Memanggil-manggil

 Menyatakan bahwa pekerjaan sedang berlangsung atau pekerjaan itu terjadi terus- menerus.
Misalnya:
 Mandi-mandi
 Berhujan-hujanan
 Terkantuk-kantuk

 Menyatakan bermacam-macam pekerjaan.
Misalnya:
 Masak-masakan
 Sulam-menyulam
 Bangun-membangun

 Menyatakan dan pekerjaan yang dilakukan oleh dua pihak secara berbalasan.
Misalnya:
 Bersalam-salaman
 Susul-menyusul 76

c. Kerancuan Pemakaian kata ulang
Kerancuan dalam pemakaian kata ulang sering terjadi apabila kata ulang digunakan bersamaan dengan kata-kata seperti: banyak, beberapa, para, sangat, saling, semua, seluruh, sekelompok, selusin dan lain-lain.

Contoh:
 Banyak anak-anak
 Para ibu-ibu
 Semua mobil-mobil
 Beberapa rumah-rumah dan sebagainya.

Pada kata ulang utuh yang unsur jenis kata bendanya seperti yang dicontohkan di atas, mengandung pengertian jamak, menunjukkan jumlah yang lebih dari satu. Dalam bahasa Indonesia, untuk menyatakan suatu jumlah yang
banyak tentang benda bisa digunakan dengan dua cara:
1) Mengulangi kata itu seperti: rumah-rumah, guru-guru.
2) Menggunakan kata pendahulu yang mengandung pengertian jamak.

Contoh:
 Banyak
 Beberapa
 Segala dan lain sebagainya.

Bila dipakai kata pendahulu jamak, tak perlu lagi kata bendanya diulang, hal ini akan menimbulkan kerancuan dan penghamburan kata-kata sehingga sifatnya pleonasti (berlebihan).

Contoh:
 Semua-rumah (benar)
 Rumah-rumah (benar)
 Semua rumah-rumah (salah)

Khusus untuk penggunaan kata ulang yang menyatakan bahwa suatu pekerjaan dilakukan secara berbalasan oleh dua belah pihak, dapat dinyatakan dengan dua cara yakni :
 Mereka tarik-menarik hingga jatuh.
Atau
 Mereka bertarik-tarikan hingga jatuh.

Kedua macam kata ulang yang di gunakan dalam kalimat tersebut menyatakan saling. Oleh sebab itu akan menjadi salah jika didepan kata ulang tersebut dibubuhkan lagi kata saling, karena akan menyebabkan kerancuan kata dan penghamburan kata (pleonastis).

Contoh:
 Mereka saling tarik-menarik sehingga jatuh (salah).
 Mereka saling bertarik-tarikan sehingga jatuh (salah).

Bentuk kesalahan lain pada kata ulang ialah, pada kata ulang yang menyatakan saling, terkandung pengertian bahwa subjeknya lebih dari satu.
Misalnya:
 Persoalan itu kait mengait antara satu dengan yang lain (benar)

Kalimat tersebut diatas akan menjadi salah bila subjeknya dijadikan kata ulang yang maksudnya untuk menyatakan jamak. Bukankah bentuk perulangan kata kerja pun sudah menyatakan subjeknya lebih dari satu (saling).
Misalnya:
 Persoalan-persoalan itu kait-mengait antara satu dengan yang lain
(salah)

Kesimpulannya, pada penggunaan kata ulang yang meyatakan saling, tidak perlu subjeknya dijadikan kata ulang, karena di dalam kalimat tersebut akan mengandung sifat yang berlebihan.
__________________________________________
J. Haryadi adalah salah satu tim pemateri Pelatihan menulis Intermedia

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->