Manfaat Berlatih Menulis di Ruang Privat

“Menulis adalah keperluan pribadi bukan tugas karena
di dalamnya ada kesenangan dan manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Ada nilai yang tak terukur dalam kegiatan ini.” (PAUL JENNINGS dalam The Reading Bug)

Menulis itu sangat mudah dan, saya jamin, tidak akan menyiksa diri kita jika kita mau memiliki sebuah ruang menulis (untuk digunakan sebagai tempat berlatih menulis) yang bernama “ruang privat”.

Saya katakan bahwa “ruang privat”, yang kita ciptakan ini, adalah untuk berlatih menulis karena menulis itu sebuah keterampilan. Jika kita tidak membiasakan diri
menulis, mustahil kita dapat memiliki keterampilan menulis yang membuat diri kita lancar dan nyaman dalam mengalirkan tulisan.

“Ruang privat” adalah ruang yang di dalamnya hanya ada diri kita ketika kita menulis. Lawan dari “ruang privat” adalah “ruang publik”. Di “ruang privat” kita benar-benar memiliki kebebasan menulis secara mutlak. Saya sering menganggap ruang ini sebagai “keranjang sampah” untuk membuang apa saja yang ingin saya keluarkan/tulis dari diri saya. Saya senantiasa merasa plong setelah habis-habisan menjalankan kegiatan
menulis di “ruang privat”.

Setiap kali saya menulis di ruangan ini, saya senantiasa menggunakan kata ganti orang pertama (“saya”), ketika mengawali menulis. Contoh: “Saya ingin menulis apa ya? Apa yang akan saya tulis yang membuat diri saya terkesan dengan tulisan saya? Materi
apa yang cocok untuk saya tulis hari ini agar saya dapat terus termotivasi membuang/mengalirkan tulisan? Saya baru saja membaca novel Edensor karya Andrea Hirata. Apa yang saya peroleh dari kegiatan membaca saya ini? Apa makna (hal-hal mengesankan) yang saya peroleh dari Edensor?”

“Ruang privat” kerap saya gunakan untuk “mengikat makna”. “Mengikat makna” adalah cara saya memadukan kegiatan membaca dan menulis yang benar-benar bermakna (tidak sia-sia) bagi diri-pribadi saya. Saya menjadi keranjingan membaca dan kemudian menuliskan (“mengikat”) apa saja—untuk mendapatkan makna—karena
“mengikat makna” benar-benar menyelamatkan saya dari kebosanan membaca dan, terutama, menulis. Saya tidak ingin kegiatan membaca dan menulis saya hampa yang,
akhirnya, membuat saya malas membaca dan menulis.

Lewat “ruang privat”, saya juga dapat menulis secara mencicil dan menulis secara spontan. Baik menulis secara mencicil maupun spontan, senantiasa saya arahkan agar saya dapat mengumpulkan lebih dahulu “bahan-bahan mentah” tulisan milik saya. Saya percaya sekali bahwa menulis tidak bisa sekali jadi. Menulis yang dapat  menghasilkan tulisan yang baik perlu waktu. Kadang, bahkan, kita perlu memperkaya tulisan kita dengan banyak membaca. Oleh sebab itu, “ruang privat” membantu saya untuk menampung “bahan”—tulisan-tulisan saya yang belum selesai atau masih menggantung atau sudah selesai tetapi masih sangat mentah—tulisan yang suatu saat bisa saya revisi dan tujukan ke publik.

Sebagaimana menulis diary, saya mengisi “ruang privat” setiap hari. Saya harus berusaha keras membiasakan diri membaca—meski hanya membaca beberapa halaman—dan kemudian menuliskan (mengikat) apa yang saya baca.

Sekali lagi baik membaca maupun menulis, itu merupakan sebuah keterampilan. Jadi, jika kita memang ingin memiliki keterampilan tersebut, ya, mau tidak mau, kita harus memiliki tekad yang sangat kuat untuk membiasakan diri menjalankan kegiatan membaca dan menulis setiap hari, meski hanya sebentar.

Apa saja keuntungan menulis di “ruang privat”?

Pertama, kita memiliki kebebasan menulis yang dapat dikatakan mutlak. Bebas dalam memilih topik, mengawali tulisan, atau menentukan tujuan (manfaat) dari kegiatan menulis yang ingin kita selenggarakan secara kontinu dan konsisten.

Kedua, kita memiliki peluang besar untuk menggali “karakter” tulisan kita. Dengan kebebasan yang kita miliki, kita dapat menunjukkan diri kita yang sesungguhnya, yang asli (genuine), yang benar-benar merupakan cerminan diri/jiwa kita.

Ketiga, kita menjadi lebih bertanggung jawab ketika mengungkapkan apa saja yang ingin kita tulis. Kita bisa merasakan apakah tulisan kita membuat diri kita senang atau tidak. Kita bisa mengecek diri kita sendiri apakah yang kita tulis ini benar-benar berasal dari murni-pikiran kita atau tidak. Ringkasnya, kita lantas bisa jujur kepada diri kita sendiri terkait dengan hasil tulisan kita.

Keempat, kita menjadi terbiasa menangkap ide-ide yang datang bagaikan kilat, yang datangnya kadang-kadang tak bisa kita duga. Memang, ada ide biasa dan ada ide
cemerlang. Namun, jelas mustahil kita dapat menangkap ide cemerlang jika diri kita tak terlatih menangkap ide yang biasa-biasa saja.

Kelima, kita punya “ruang” untuk menulis yang tidak mengancam atau meneror diri kita. Kita bisa memanfaatkan “ruang” tersebut untuk meraih tujuan-pribadi menulis kita lebih dahulu. Jika, kendala-kendala internal menulis (yang ada di “ruang privat” ini, seperti mood, semangat, tidak punya ide, mengkarakterisasi tulisan, dan lain-lain) bisa kita atasi, insya Allah, kita akan dapat mengatasi kendala eksternal (yang ada di “ruang publik”).

Apakah mungkin kita dapat enak dan nyaman menulis di “ruang publik”,
jika menulis di “ruang privat” saja belum beres dan masih mengganggu diri kita?

Semoga bermanfaat.

(tulisan ini disampaikan dalam acara Family Writing Kabamedia tanggal  2 Juni 2007)


*) oleh: Hernowo, CEO Mizan Learning Center (MLC), dan juga
sebagai Pemateri Utama Training Menulis yang diselenggarakan oleh Sekolah-Menulis.com

Sehari-harinya beliau juga mengelola Klinik Baca-Tulis MLC dan menjadi instruktur di Sekolah Menulis “Mengikat Makna” via E-mail. Sejak menerbitkan karya pertama, Mengikat Makna (2001), hingga mendekati medio 2007 ini sudah 27 buku ditulisnya. Buku-buku bestseller-nya, antara lain Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quantum Writing, dan Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Menyenangkan.

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->