MENGAPA KITA HARUS MENULIS ?

oleh : J. Haryadi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tdak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Menulis sebenarnya pekerjaan yang sangat menyenangkan, apalagi jika dilakukan dengan sepenuh hati. Oleh sebab itu ada juga orang yang menganjurkan agar “menulis dengan hati”, sehingga tulisan yang dihasilkan juga mengalir seperti air yang turun dari tebing ke bawah bukit, lancar tanpa hambatan. Tulisan yang baik biasanya juga dihasilkan dari penulis yang menulis dengan ikhlas, tanpa beban dan mempunyai pengetahuan yang baik pula.

Ada juga orang yang menganggap pekerjaan menulis itu berat dan membosankan. Pendapat itu tentu bukan tanpa alasan. Mereka umumnya bingung harus menulis apa dan untuk apa tulisan yang akan dibuatnya. Memang, jika orang menulis tanpa tujuan, tentu saja hasilnya akan sulit dan dijamin hambar dan tidak bernilai. Menulis harus mempunyai tujuan yang jelas, ibarat kita bicara, maka jangan bicara asal bicara melainkan bicara yang ada manfaatnya. Menulis pun seperti itu. Menulis harus mempunyai tujuan yang jelas dan mempunyai perencanaan yang jelas pula.

Tulisan akan mudah dibuat jika kita sudah mempunyai perencanaan yang matang, seperti misalnya tema apa yang akan ditulis, jenis tulisannya, menentukan outlinenya, gaya penulisannya, untuk siapa tulisan tersebut dibuat, kapan harus selesainya dan sebagainya. Tetapi, perencanaan yang baik juga tanpa didukung dengan ilmu kepenulisan dan data bahan/resource tulisan, maka tulisan akan menemui hambatan. Apa lagi jika penulis tidak mempunyai motivasi yang kuat dalam menulis, sehingga tulisan yang sudah dibuat bisa berhenti ditengah jalan.

Salah satu cara agar kegiatan menulis bisa berjalan dengan baik dan lancar, maka kita harus mempunyai komitmen yang kuat terhadap rencana menulis tersebut. Komitmen yang kuat bisa tercipta jika kita mempunyai motivasi dalam menulis. Artinya, kita harus mempunyai alasan mengapa kita harus menulis. Jika alasan itu begitu kuat dan bisa mendorong semangat kita menulis, maka aktivitas menulis menjadi mudah dan lancar.

Setiap orang tentu mempunyai alasan yang berbeda-beda dalam menulis. Alasan ini yang menentukan apakah seseorang itu nantinya akan menjadi penulis biasa-biasa atau menjadi penulis besar.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang itu mau menulis, diantaranya adalah:

1. Berbagi ide/pemikiran.
Ide/pemikiran yang dimiliki oleh seseorang jika tidak ditulis dan di share ke orang lain, maka ide/pemikiran tersebut akan sirna dengan sia-sia, padahal mungkin saja ide/pemikiran tersebut bisa membantu menyelesaikan masalah orang lain, sehingga bermanfaat.

Menuliskan ide/pemikiran juga bisa membantu orang lain bertambah wawasannya. Tulisan yang dipublikasikan akan dibaca oleh orang banyak sehingga manfaatnya semakin luas. Banyak media yang bisa menampung tulisan kita, misalnya di blog, website, media sosial (twitter, facebook), surat kabar, majalah, tabloid dan sebagainya. Jika memungkinkan ide/pemikiran bisa dibuat lebih mendalam dalam bentuk buku.

2. Mencegah serta menghilangkan stress.
Seseorang yang hobi menulis bisa melampiaskan perasaannya ke dalam tulisan. Perasaan senang atau sedih bisa dituangkannya ke dalam tulisan. Menuangkan tulisan sama saja dengan bicara pada diri sendiri. Kita seakan-akan sedang berkomunikasi dengan diri kita sendiri.

Ketika kita sedang dilanda masalah, menuliskan perasaan hati kita bisa membuat beban yang ada di dada menjadi berkurang. Bisa kita bayangkan kalau memendam masalah dan tidak ada media untuk menyalurkannya, maka beban pikiran tersebut membuat kita stress.

3. Mengisi waktu luang.
Sebagian orang begitu sibuknya bekerja sampai merasa kekurangan waktu, tapi disisi lain banyak juga orang yang menyia-nyiakan waktunya. Bagi orang yang senang bekerja dan tidak mau membuang waktunya dengan percuma, maka aktivitas menulis bisa dijadikan cara untuk mengisinya. Banyak hal yang bisa ditulis, misalnya menulis tentang sesuatu yang menjadi hobinya, menulis tentang kisah percintaan sahabatnya ketika masih remaja, menulis tentang kisah sukses tetangganya dan lain sebagainya.

Seorang ibu rumah tangga yang pekerjaan sehari-harinya mengurus rumah dan anak-anaknya, bisa memanfaatkan waktu luangnya dengan menulis. Banyak ibu ibu rumahan alias ibu rumah tangga yang kreatif memanfaatkan waktu luangnya dengan berbagai aktivitas positif, misalnya membuat kerajinan rumah tangga dari bahan-bahan bekas yang bisa didaur ulang, berjualan pulsa, berjualan makanan jajanan atau menjadi seorang penulis.

Ada sebuah grup ibu-ibu yang sukses memanfaatkan waktu luangnya dengan menulis di Bandung yaitu grup Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pimpinan Indari Mastuti. Mereka sebenarnya ibu rumah tangga biasa yang hobi menulis, sehingga bisa memanfaatkan waktu luang dengan baik bahkan bisa mendapatkan income tambahan dari aktivitas mereka yang positif tersebut.

4. Mencari uang.
Profesi penulis tidak berbeda dengan profesi lainnya, jika dijalankan dengan serius bisa menghasilkan uang yang tidak sedikit. Memang, kebanyakan orang menempatkan aktivitas menulis hanya sekedar hobi atau sebagai penghasilan tambahan, tetapi jika benar-benar ditekuni bisa menghasilkan uang yang banyak dan tidak kalah menarik dengan profesi lainnya.

Kalau Anda mau menjadikan aktivitas menulis sebagai mata pencarian utama, maka banyak hal yang harus dilakukan, tidak hanyak sekedar menjadi penulis di blog, website atau media massa, tetapi Anda bisa mengembangkannya lebih jauh. Misalnya Anda bisa mengembangkan diri sebagai Co Writer (penulis Pendamping), Ghost Writer (Penulis bayangan), Penulis buku biografi, penulis konten (untuk iklan), penulis artikel, penulis buku, editor buku, dan lain sebagainya.

5. Menjadi terkenal.
Menjadi terkenal karena menulis, kenapa tidak ? Jangan Anda pikir hanya dengan menjadi artis, pengusaha atau pejabat saja yang bisa membuat Anda terkenal, menjadi sorang penulis pun bisa menjadikan diri Anda terkenal. Jadi wajar saja jika ada orang yang menulis dengan tujuan ingin menjadi orang terkenal.

Kita bisa melihat beberapa penulis ternama seperti Gola Gong, Andrea Hirata, Ayip Rosidi, Rosihan Anwar, Dewi Lestari, Pramoedya Ananta Toer, Raditya Dika, Habiburrahman El Shirazy, Mira W., Agner Davonar, Agnes Jessica, Asma Nadia dan masih banyak lagi lainnya. Mereka adalah penulis dari berbagai generasi yang sukses dan terkenal.

6. Sebagai media sosial
Jika ada orang yang menulis dengan tujuan sosial itu bisa dimaklumi, karena melalui tulisan kita bisa berbuat sesuatu untuk orang banyak. Tulisan yang baik bisa menginspirasi orang untuk berbuat kebaikan. Jika kita menulis dan memberikan manfaat positif bagi pembaca maka tulisan tersebut dari sisi sosial bisa mengubah sudut pandang masyarakat menjadi lebih baik.

Agama mengajarkan kita untuk berbuat kebaikan, maka melalui tulisan, kita bisa menyebarkan virus kebaikan, misalnya dengan menulis tentang bagaimana agar masyarakat tidak bertindak anarkis dan bisa menghargai agama orang lain, menghargai perbedaan pendapat dan lain sebagainya.

Salah satu tokoh yang menekuni dunia menulis untuk tujuan sosial adalah Emha Ainun Nadjib atau biasa dipanggil Cak Nun. Menurut budayawan yang juga dikenal dengan julukan Kyai Mbeling ini, menulis bukanlah untuk menempuh karir sebagai penulis, melainkan untuk keperluan-keperluan sosial.

7. Menulis juga merupakan sarana komunikasi.
Setiap orang pasti sering berkomunikasi, tentu saja komunikasi yang sering
dilakukan adalah melalui mulut (berbicara). Berkomunikasi juga bisa dilakukan dengan cara tertulis. Tentu saja ada perbedaan antara berkomunikasi secara verbal (bicara) dan lisan (melalui tulisan). Meskipun keduanya merupakan aktivitas berkomunikasi yang bertujuan menyampaikan sesuatu kepada orang lain, tetapi menulis mempunyai keunikannya sendiri.

Jika kita ingin menyampaikan sesuatu kepada orang lain secara langsung, bisa saja kita merasa malu atau segan sehingga jika dipaksakan hasilnya bisa tidak sesuai dengan harapan. Berkomunikasi langsung memiliki kendala atau hambatan tersendiri yaitu kepercayaan diri, sehingga kadang-kadang ketika bicara, karena gugup dan tidak pede, hasilnya malah tidak sesuai dengan rencana, bahkan bisa berakibat fatal.

Lain halnya jika kita menyampaikannya melalui tulisan. Kata demi kata yang kita susun bisa kita ubah sedemikian rupa jika tidak menarik, sehingga sebelum disampaikan kepada orang yang dituju, tulisan tersebut yang merupakan buah pikiran kita bisa mengalami beberapa kali dibaca ulang dan direvisi sehingga hasilnya lebih maksimal. Ketika tulisan disampaikan pun kata-kata yang ada tidak mungkin berubah seperti halnya ketika bicara langsung secara lisan. Kita juga tidak perlu nerveus ketika bahan pikiran tersebut sampai kepada orang yang kita tuju.

8. Merekam sejarah.
Kita bisa menjadi pintar karena banyak belajar yaitu dengan membaca berbagai tulisan, baik berupa artikel yang ada di surat kabar maupun buku. Bisa kita bayangkan kalau tidak ada satu pun tulisan yang ada di bumi ini, dan semuanya hanya mengandalkan ingatan saja. Maka ketika orang yang berilmu itu meninggal, maka ilmu yang ada diotaknya juga akan terbawa ke liang kubur.

Menulis berarti merekam sejarah. Apa saja yang kita tulis bisa menjadi pelajaran berharga bagi generasi yang akan datang. Oleh sebab itu tulisan yang kita buat sekarang bisa abadi sepanjang naskah tersebut diabadikan dalam bentuk media seperti buku atau bisa juga secara elektronik dengan menyimpannya di internet. Melalui tulisan, ketika kita sudah tiada, maka kita bisa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi mendatang.

9. Tuntutan pekerjaan.
Tidak semua tujuan menulis dilakukan dengan hati (ikhlas), namun ada juga orang menulis karena terpaksa alias karena tuntutan pekerjaan. Misalnya orang yang bekerja sebagai petugas administrasi, sekretaris, karyawan kantor dan lain sebagainya. Tentu tidak semua orang yang bekerja pada bagian tersebut dianggap bekerja tanpa hati, tapi kebanyakan memang dilakukan tidak dengan semangat yang tinggi dan kreatif, melainkan hanya sekedar menyelesaikan kewajiban atau tanggung jawab semata.

Orang-orang dengan profesi tersebut, umumnya kurang kreatif dalam menulis, karena setiap hari terbiasa mengerjakan pekerjaan rutin menulis sesuatu yang sudah baku dan monoton dengan tulisan-tulisan resmi yang sudah memiliki gaya dan pola tertentu. Tidak ada keinginan dan keberanian dalam dirinya untuk berani melakukan perubahan karena akan dianggap melanggar aturan. Akhirnya penulis di tingkatan ini kurang begitu berkembang.

10. Menulis karena hobi.
Bagi orang yang mempunyai hobi tertentu, apapun akan dilakukan demi hobinya tersebut. Misalnya ada orang yang hobi memancing, maka dia akan rela mengeluarkan uang dan melakukan perjalanan jauh untuk sekedar melampiaskan hobinya memancing. Padahal kalau dipikir, hasil memancingnya mungkin tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkannya. Kepuasaaan batin memang tidak bisa dinilai dengan uang.

Nah, begitu juga dengan orang yang hobi menulis. Apapun akan dilakukannya yang penting dia bisa menulis. Aktivitas menulis baginya merupakan suatu kesenangan. Maka, dia rela menulis apa saja yang menurutnya asik ditulis, tanpa memikirkan apakah tulisan itu menghasilkan uang atau tidak, bermanfaat atau tidak yang penting dia bisa menulis. Tentu saja kalau menulis yang baik-baik akan berdampak positif bagi siapa saja yang membacanya. Orang yang hobi menulis biasanya mempunyai blog pribadi untuk menyalurkan ide/gagasannya dalam menulis.

Seseorang yang hobi menulis bisa menulis sepanjang waktu, tidak ada istilah mood atau tidak mood dalam kamus hidupnya. Baginya menulis itu seperti berbicara, maka sepanjang dia punya banyak ide dan senang berbicara, maka jarijemarinya akan dengan cepat beralih fungsi menggantikan mulutnya sebagai media komunikasi. Penulis tingkatan ini sebagian besar waktunya digunakan untuk menulis, baik menulis hal-hal fiksi maupun nonfiksi.

11. Menulis karena panggilan hidup.
Level tertinggi dari tujuan menulis adalah karena panggilan hidup. Artinya, orang menulis karena baginya menulis merupakan jalan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Menulis merupakan salah satu cara baginya untuk memberikan perubahan ke arah yang lebih baik bagi orang banyak. Tanpa menulis, bagaimana mungkin ide/pikiran yang ada di kepalanya bisa disebar dengan cepat dan bisa dinikmati oleh ribuan bahkan jutaan manusia. Gagasan yang disampaikan melalui lisan memiliki keterbatasan, tetapi melalui tulisan akan lebih efektif, praktis dan ekonomis.

Menulis karena panggilan hidup mempunyai makna yang sangat tinggi, karena tujuan menulis bukan hanya sekedar mencari ketenaran, mencari uang atau urusan duniawi semata, melainkan lebih mengarah ke alam spiritual, yaitu menulis demi berjuang untuk kebaikan umat manusia. Jika sudah sampai pada level ini, maka menulis menjadi pekerjaan yang menyenangkan karena dilakukan dengan hati yang ikhlas demi kepentingan orang lain.

Pada hakikatnya, apapun tujuan kita menulis, sepanjang dilakukan dengan tujuan yang baik, Insya Allah akan menghasilkan kebaikan. Di mana pun kita berada, apapun atribut yang kita sandang tidak perlu dipermasalahkan, yang penting kita menulis sesuatu secara maksimal sesuai dengan apa yang menjadi kesukaan kita, sambil terus menerus belajar dan memperbaiki kualitas tulisan kita sepanjang waktu. Mungkin cuplikan hadits berikut ini bisa menjadi bahan renungan kita, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR Bukhari).

___________________
J. Haryadi adalah salah satu tim pemateri pelatihan menulis di Intermedia.

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->