Menulis Feature

Menulis Feature

Oleh: Tasaro GK

FEATURE
“Feature apaan, sih? Tanya aja ma Mbah Google.” Dari dalam partisi triplek berpaku-paku itu, bising kendaraan melaju satu arah di sepanjang Jalan Raya Jatinangor teredam pintu kaca gelap yang bersebelahan dengan meja operator. Komputer plasma 14 inci, karpet hijau seperti yang biasa diampar di
tempat ibadah, dan pendingin ruangan yang menyegarkan. Ini satu di antara sedikit warung internet yang masih bertahan ketika berbagai kemudahan akses internet telah masuk ke kamar-kamar kos.

“Feature apaan, sih?” Seorang perempuan berambut keringatan
menempeli leher mendorong pintu warnet. Satu lagi menyusul di belakangnya. Teman si rambut keringatan ini mengunyah sambil berbicara, atau sebaliknya; berbicara sembari mengunyah-ngunyah.”Tau. Gue juga pusing. Tanya aja ma Mbah Google.”

Sudah sepekan sejak dua perempuan belia yang mahasiswa
tingkat pertama jurusan Jurnalistik itu diberi tugas oleh dosen penulisan features mereka. Setidaknya, dalam satu hal, keduanya sudah mirip-mirip dengan wartawan: gemar bekerja sambil dikejar-kejar deadline. Ketika waktu pengumpulan tugas tinggal sehari lagi, baru keduanya sibuk
mencari bahan tulisan agar setidaknya bisa memenuhi nilai dari komponen tugas terstruktur dosen.

“Alamak, definisinya juga geje gini.” Si Rambut Lengket di
Leher mulai mengerjakan tugasnya dengan pembukaan yang kurang meyakinkan. Dia memasukkan frase definisi ferature dan data yang bermunculan terlalu bermacam-macam. “Padahal dosen itu pan maniak definisi,” celetuk si Gadis Pengunyah yang menyewa komputer di sebelahnya.

Dalam jagad kepenulisan jurnalistik, feature memang lebih
singkat disebut sebagai tulisan khas tanpa definisi yang terlalu mengikat. Namun demikian, kekhasan featureslah yang membuat jenis tulisan jurnalisitik ini mencorong, berbeda dengan jenis tulisan lainnya.

Redaktur Senior Majalah Gatra yang juga novelis Yudhistira
ANM Massardi sangat tegas berpendapat feature bukan karya fiksi, tapi karya jurnalistik. Beda dengan karya fiksi semacam novel dan cerpen yang lebih banyak menyerahkan kepada pembaca perihal pemaknaan isi tulisan, features tegak dengan disiplin data yang faktual hanya ditulis
dengan pilihan kata, cara bercerita, dan sudut pandang yang luwes dan lentur.

Sebuah tulisan features tidak cukup mengantarkan informasi
kepada pembaca dengan bentang 5 W + 1 H saja, namun juga menarik pembaca agar masuk ke suasana yang dibangun dalam tulisan, merasakan apa yang dirasakan penulis, melihat apa yang dilihat penulis, meraba apa yang teraba penulis, mengecap apa yang dikecap penulis.

Indera yang digunakan penulis manakala dia menceritakan fakta-fakta yang ia saksikan harus pula terpakai ketika pembaca membaca feature yang sedang dibacanya.

Unsur-unsur Feature
Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya “Junalistik Praktis” menulis jika memahami features melalui definis menjadi rumit, maka mengenali unsur-unsur yang terkandung di dalamnya justru akan lebih mudah. Sebuah feature, menurut dosen, penyiar radio dan jurnalis yang bernama sapa Romel ini sebuah feature mesti mengandung unsur human interest.
Sebuah foto alam sedasyat apa pun akan lebih dramatis ketika terpotret pula di dalamnya profil manusia. Sebab, manusia paling tertarik dengan manusia. Maka, sebuah ulisan feature pun akan kuat jika tulisan ini mampu menyentuh sisi-sisi emosional pembaca.

“Karenanya, feature termasuk kategori soft news (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi. Berbeda dengan hard news (berita keras), yang isinya mengacu kepada dan pemahamannya lebih banyak menggunakan pemikiran” tulis Romli.

Unsur kedua yang menonjol dari sebuah feature adalah sentuhan sastra di dalamnya. Pemahaman umum hal yang dinamakan sastra adalah genre penulisan di ranah fiksi. Padahal, sastra lebih bertanggungjawab dalam hal pilihan kata bukan genre tulisan. Maka feature adalah tulisan non fiksi yang dibawakan dengan citarasa sastrawi.Terasa ringan dan menghanyutkan. Membuat pembaca tidak merasa sedang menelan berbagai informasi yang ketika dibaca melalui tulisan teks akan terasa keras dan kaku.

Penulis buku Features Writing for Newspaper (1975), DR
WilliamsonWiliamson menambahkan unsur khas dalam feature adalah kreativitas si penulis.Karena feature ditulis dengan pendekatan khas, penulis mesti memiliki cara memilih sudut pandang yang memudahkan pembaca untuk menelusuri tuisannya. Maka, riset dan penguasaan bahan tulisan mutlak dibutuhkan oleh seorang penulis feature.

Feature juga memberi ruang yang lega bagi penulisnya untuk
memasukkan subjektivitas untuk bertangungjawab di dalamnya. Maksudnya di sini, seorang penulis bisa mengarahkan sudut pandangnya dalam tulisan selama dia tetap mendasarkan sudut pandangnya itu dengan fakta-fakta yang kuat.

Meski ulur-tarik teknis penulisan feature membuat batasan yang tipis dengan penulisan fiksi namun, unsur pembeda berupa data fakta dan informasi tetap harus dijaga. Pembaca mesti mendapatkan rangkaian informasi dan fakta yang berguna ketika ia membaca feature. Namun, pada saat bersamaan, pembaca juga merasa terghibur dengan gaya
penulisan, sudut pandang, atau pilihan kata si penulis feature tersebut. Keunggulan feature yang tidak dimiliki jenis tulisan jurnalistik lain adalah masa keterbaruannya yang lama bahkan abadi. Karena ditulis secara mendalam, feature berpeluang menjadi sebuah tulisan yang bisa
dibaca kapan saja tanpa terpengaruh dengan waktu sebuah peristiwa.

Jenis-Jenis Feature
Jika Anda membaca profil figur publik di media massa dan Anda merasa terhibur karenanya, itu karena tulisan tersebut ditulis dengan gaya feature yang baik. Salah satu jenis feature adalah feature kepribadian yang menjadikan profil seseorang sebagai objek tulisan.

Ketika Anda membaca sebuah tulisan perihal peristiwa-peristiwa bersejarah dan Anda merasa tenang dan renyah tanpa pusing memikirkan peristiwa dan tanggal-tanggal kejadiannya, berarti Anda sedang membaca sebuah feature yang berkualitas. Sebab, salah satu jenis feature yang
dikenal adalah feature sejarah.

Jenis feature lain yang banyak terbit di berbagai media masa adalah feature petualangan yang mengisahkan tentang penjelajahan ke berbagai tempat eksotis, feature musiman yang memberitakan peristiwa khusus pada masa-masa khusus, misalnya Hari Raya atau masa liburan, feature intepretatif yang memberi wacana kepada pembaca perihal detail suatu
fenomena, feature how to yang biasanya diburu oleh pembaca yang ingin kecipratan ide interpreuneurship atau sekadar ingin melancarkan hobinya.

Tahapan menulis feature
Seperti halnya klasik dipahami bahwa penulisan jurnalistik bertumpu pada 5 W +1 H, demikian juga unsur pembangun feature yang utama. Tahapan yang mesti dilakukan dalam penulisan feature antara lain. Menemukan fakta dengan rumusan 5 W + 1 H, fokus dan mendalami unsur how-nya, memilih sudut berita, menentukan lead; kepala berita
atau alenia pembuka, mulai menulis.

Menentukan lead
Menjadi penting untuk memilih lead yang tepat sekaligus menarik dalam memulai feature, karena pembaca yang akan menentukan lanjut tidaknya dia membaca feature setelah membaca alenia pembukanya.

Macam-macam lead yang dimaksud adalah lead pasak,lead kontras, lead pertanyaan, lead pertanyaan, lead stakato, lead ledakan, lead figuratif, lead ungkapan khas, lead literer, lead parodi, lead kutipan, lead percakapan, lead komulatif, lead sepaan, dan pilihan lainnya. (***)

Jika saya redaktur media massa, saya akan mencari feature yang…..
 Berkekuatan human interest
 Membuat pembaca mengindera peristiwa
 Tahan lama
 Ringan
 Menghibur
 Informatif

Human Interest
Apa pun yang membuat Anda:
 Bahagia
 Terharu
 Sedih
 Simpati
 Gemas
 Marah
 Tersenyum
 Tertawa

Mengindera Melalui Kata-Kata

Penglihatan
Kumpulkan data-data yang tertangkap mata
• Ibu berpenjepit merah, bermata cemas, menggendong anak
yang kepalanya berperban sambil menggenggam bantal.
• Si Anak berkulit gelap, berkaki kurus, tatapannya penuh
kebingungan.
• Helicopter yang mendarat, dikerumuni orang-orang,
menurunkan bantuan

Inderakan …
• Bantal bersarung bunga, berlatar tosca adalah kemewahan
bagi ibu anak itu. Sang ibu menatap heli di kejauhan
sembari menggendong anak yang tampak sudah terlalu besar
untuk membebani tubuhnya. Anak itu terluka di kepala.
Perban putih menutup sebagian rambutnya.Sementara bantal
istimewa berlatar tosca tak lepas dari pelukannya.
• Ibu dan anak itu hanya sebagian kecil dari ribuan
penduduk Pulau Nias yang mencari harapan di lapangan
perintis Pulau Nias, ketika heli pembawa bantuan datang
untuk kali pertama, setelah satu pekan pulau itu tak
tersentuh usai diguncang gempa raksasa.

Pendengaran

Penciuman
 Seberapa merangsang penciuman Anda?
 Apakah aromanya mengingatkan Anda pada sesuatu?
 Cari padanan aromanya
 Tuliskan … Tuliskan … Tuliskan..

Peraba
 Jadikan jemari Anda menjadi ahlinya ….
 Setiap benda ada teksturnya…
 Apakah tekstur benda itu mengingatkan Anda pada sesuatu?
 Buatlah padanan katanya.
 Tuliskan

Pengecap
– lidah Anda adalah maestro
– Setiap rasa memiliki sensasi yang berbeda
– Apakah rasa itu mengingakan Anda pada sesuatu?
– Cari padanan katanya
– Tuliskan … tuliskan

Indera “keenam”: pengoneksi
1. Kecerdasan khas seorang penulis adalah mengoneksi data.
2. Memasukkan sebuah peristiwa yang jauh dari tema tulisan
tanpa mengubah arah tulisannya.
3. Koneksi itu membuat tulisan bergizi.

Koneksi
 Semua tahu, waktu itu, Indonesia yang masih muda amat sibuk luar biasa. Banyak berita ribut-ribut di halaman surat kabar. Seorang yang disebut Tengku kecewa terhadap Presiden dan ingin merdeka di ujung Sumatera sana. Sedikit ke timur di pulau yang sama, petani bentrok dengan polisi, lima orang mati. Para petani malang menjadi korban gara- gara tak terima ketika polisi mengusir mereka. Konon, orang-orang komunis membisiki petani-petani itu untuk bertahan di tanah garapan mereka yang sejak lama ditinggalkan pemiliknya.
• Di Bandung, nama Westerling masing ramai disebut, setelah empat tahun dia angkat kaki dari Indonesia. Menaiki pesawat Belanda, dia terbang ke Malaya. Kapten berambut jagung itu dikutuk orang-orang karena membuat kekacauan di Bandung dan Jakarta. Membunuhi banyak tentara Indonesia dan penduduk biasa.
• Pada waktu yang kurang lebih sama, satu atau dua jam perjalanan dari Bandung, di sebuah desa yang seolah terlepas dari segala kekacauan Indonesia belia, seorang ibu berjuang hebat untuk mengantar sebuah sejarah baru; kelahiran bayinya yang kelima.
• Tangis bayi laki-laki memecah awal hari yang belum lagi
disambangi matahari. Siti Juariyah, sang ibu, menciumi anak
laki-lakinya yang ketiga itu tanpa pernah membayangkan,
kelak bayi itu akan mengubah banyak hal dalam catatan
kehidupan keluarga besarnya.

Lead – Lead Penting

Lead Pertanyaan
• Apa yang akan Anda lakukan jika Anda tiba-tiba menerima uang 1 miliar? Pertanyaan yang sama awalnya membuat bingung
Suketi, TKW yang menerima bantuan dari kencleng umat sebesar Rp1 miliar. Dana yang awalnya terkumpul untuk
membebaskannya dari ancaman hukuman gantung itu malah
menjadi rezeki nomplok bagi Suketi, karena Pemerintah
Indonesia telah membayar uang diyat terhadap keluarga majikan yang ia bunuh.

Lead Diskriptif
• Sepanjang Jalan Parangtritis menjadi padang kesakitan. Para manula bergeletakan dengan tatapan lengang. Beberapa di antaranya merintih kesakitan. Tak sedikit yang memanggil-
manggil kerabatnya yang sudah tak ada. Rumah-rumah di kanan
kiri jalan sudah tak jelas bentuknya. Ambruk berantakan.
Ceceran darah menempel basah di reruntuhan bata dan kayu.
Suasana mengiris perasaan itu masih terlihat tiga hari setelah gempa melanda kawasan Bantul, DIY

Lead Ungkapan
• Sudah jatuh tertimpa tangga. Lengkap sudah rasa malu Udin. Sudah tertipu istrinya yang ternyata laki-laki berpenampilan perempuan, kini dia ditangkap oleh polisi karena dituding melakukan tindak asusila.

Lead Kumulatif
• Orang-orang berlarian di jalan-jalan. Para perempuan menjerit-jerit ketakutan, terjebak di dalam rumah. Di angkasa, burung-burung berterbangan panik dalam kelompok besar. Gemuruh dari kejauhan datang dengan kecepatan mengerikan. Tsunami menghantap pesisir Aceh, pada subuh pagi akhir tahun 2004

Lead Pernyataan/ simpulan
• Dinihari itu menjadi awal hari paling hitam bagi sejarah bebangsa di Indonesia. Para jenderal berbintang diculik dan dibunuh atas nama revolusi. Puluhan tahun kemudian, muncul tanda tanya besar mengenai kebenaran di balik peristiwa yang kemudian disebut sebagai G 30 S PKI itu.
—————————————————–
Tasaro GK adalah salah satu tim pemateri Pelatihan Jurnalistik Intermedia

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->