Menulis untuk media

Menulis untuk media

“Aku menulis, maka aku Ada.” (KH. Zaenal Arifin Thoha)

Benarkah menulis itu sulit? Mungkin pertanyaan inilah yang seringkali muncul di benak kita saat akan menulis sesuatu, baik berupa tulisan resensi, opini, cerpen, maupun novel. Jawaban atas pertanyaan inipun sungguh beragam. Sebagian orang, ada yang menjawab bahwa menulis adalah gampang, namun ada pula yang menjawab dengan nada pesimis bahwa menulis adalah pekerjaan yang sulit, bahkan mustahil untuk dilakukan.

Namun, ketahulailah, bahwa setiap orang sejatinya memiliki potensi untuk bisa menulis atau menjadi seorang penulis. Maka, dengan keyakinan ini, menulis sejatinya adalah suatu hal yang sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapa pun. Semuanya tergantung dari niat, tekad, kemauan, dan usaha yang kita lakukan. Jika niat, kemauan dan usaha yang kita lakukan kuat, maka proses untuk menulis pun sangatlah mudah.

Sebaliknya, jika kita menganggap bahwa sesuatu (baca: menulis) itu sulit, maka kesulitan pulalah yang akan kita temui. Bahkan, sebelum memulai untuk menulis, kita akan kalah duluan, sehingga kita tidak akan pernah bisa untuk menulis. Lain halnya jika kita berkeyakinan bahwa menulis itu mudah, maka dengan sendirinya kemudahanlah yang akan kita temui. Yang terpenting, dalam menulis, kita perlu pembiasaan, kerja keras, dan niat yang kuat.

Lalu, bagaimana caranya jika kita berkeinginan untuk menulis di media massa? Atau bagaimana caranya agar tulisan yang kita buat bisa dimuat di media massa, baik elektronik maupun cetak. Prinsipnya sama, sepanjang kita memiliki tekad yang kuat, berpikir positif, dan berusaha keras, maka bukanlah hal mustahil jika suatu saat tulisan kita dimuat di media massa. Yang terpenting, sekali lagi, adalah “kita berusaha untuk menulis.”

Bagaimana memulai menulis di media massa?

Banyak yang ingin menulis ke media massa, tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara yang perlu kita ketahui jika kita berkeinginan agar tulisan kita dimuat di media massa.

1. Mempelajari teori menulis baru praktik.

2. Menulis dulu, teori belakangan.

Namun, berdasarkan pengalaman saya, cara kedua nampaknya lebih baik. Karena biasanya, seseorang enggan untuk menulis, lantaran ia merasa belum menguasai teori atau ia merasa bahwa tulisannya jelek. Saat rasa enggan ini hadir secara otomatis seseorang tidak akan pernah memulai untuk menulis. Padahal, sebagaimana kita ketahui bahwa menulis butuh pembiasaan. Beda halnya jika kita sudah mulai menulis, meskipun kita belum terlalu paham tentang teorinya. Saat kita memutuskan untuk segera menulis, maka dengan sendirinya kita akan terbiasa. Dan kebiasaan ini, menjadikan kita lebih mudah untuk sekedar membuat tulisan.

Menulis pada dasarnya memang butuh teori, namun teori ini sesungguhnya dapat kita pelajari sambil lalu. Maksudnya, saat kita mulai untuk menulis, saat itu pula kita belajar tentang teorinya. Menulis di media massa pada hakikatnya akan sangat mudah jika kita tidak terjebak dengan berbagai teori yang ada, dimana kita menulis dengan gaya kita sendiri. Menulis dengan gaya sendiri mengandung arti bahwa tulisan kita dibuat bukan berdasarkan cara atau gaya tulisan dari orang lain.

Namun demikian, pada awalnya, sangatlah penting bagi kita untuk tetap banyak membaca karya atau tulisan orang lain. Hal ini kita lakukan untuk sekedar menambah wawasan kita tentang bagaimana cara membuat tulisan yang menarik dan baik. Sehingga dapat dimuat di media massa. Bahkan, jika kita merasa kesulitan untuk menulis, tidak ada salahnya jika kita meniru atau mencontoh (bukan plagiat) gaya tulisan dari orang lain.

Topik Tulisan Di Media Massa

Berbicara tentang topik tulisan, maka topik tulisan yang biasa dijadikan sebagai opini atau essai di media massa adalah berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini atau mengenai peristiwa penting yang terjadi pada saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY? Apa tanggapan Anda tentang anarkisme massa yang marak terjadi di tanah air? Dan lain-lain.

Yang jelas, untuk menentukan sebuah topik, kita selaku penulis opini harus mencermati secara baik berbagai peristiwa yang saat ini marak diperbincangkan oleh media. Atau setidaknya, kita mencari sebuah topik yang menarik, unik, dan baru yang sekiranya relevan dengan realitas kekinian, sehingga media massa tertarik untuk mengangkatnya sebagai sebuah opini publik.

Setidaknya ada empat hal yang harus kita cermati secara serius untuk menentukan sebuah topik tulisan opini di media massa, khususnya koran, yakni:

1. Isi editorial/tajuk sebuah media.

2. Headline/berita utama sebuah media.

3. Tulisan opini.

4. Hari besar nasional/internasional

Siapapun yang ingin jadi penulis di media massa hendaknya tidak pernah melewatkan tiga poin pertama di atas setiap kali membaca sebuah koran. Dan selalu mengingat poin ke empat.

(1) Tanggapan Editorial/Tajuk sebuah media adalah suara atau sikap resmi dari media yang bersangkutan tentang sebuah kasus/kejadian tertentu; sesuai dengan misi media tersebut. Menanggapi editorial/tajuk di harian Kompas misalnya, tentu saja berbeda dengan cara kita menanggapi editorial di harian Republika. Umumnya menanggapi tulisan editorial/tajuk harus cepat. Idealnya, tanggapan untuk tajuk/editorial hari ini dapat dikirim hari ini juga sehingga dapat dimuat esok harinya di media terkait. Namun, kalau tanggapan kita baru selesai dalam dua hari, teruskan dikirim ke media terkait, karena peluang untuk dimuat masih tinggi terutama untuk media yang tak sebesar Kompas.

(2) Tanggapan Headline Media/Berita Utama juga bisa dijadikan pijakan untuk menulis. Jangan lupa untuk mencatat nama media/tanggal/bulan headlines yang kita kutip.

(3) Tanggapan Artikel Opini. Artikel opini dikenal juga dengan istilah artikel OP-ED (singkatan dari opini-editorial). Umumnya artikel OP-ED yang menanggapi artikel OP-ED lain berisi tambahan yang lebih lengkap dari yang dibahas sebelumnya atau menentang artikel yang ditanggapi.

(4) Hari besar nasional/internasional adalah tulisan yang isinya berkaitan dengan hari besar pada saat itu. Contoh, 1 Januari adalah Hari Perdamaian Dunia, 21 April adalah hari Kartini, 1 Mei adalah hari Buruh Sedunia. Sebelum hari H, kita sebagai seorang penulis media dituntut untuk segera mencari data, mengolah data, dan menganalisnya sehingga dapat menjadi sebuah tulisan yang menarik. Dan kirimkan segera ke media sebelum hari H.

Struktur dan Panjang Tulisan

Bagaimana struktur tulisan opini di media massa? Dan berapa panjangkah tulisannya? Jika kita cermati secara baik, maka dalam setiap tulisan opini, sesungguhnya selalu terdapat tiga unsur penting, yakni pendahuluan, isi, dan penutup. Untuk membuat pendahuluan yang baik, biasanya kita dituntut untuk menggambarkan atau menuliskan fakta-fakta apa yang hendak kita tanggapi. Dalam hal ini, kita misalnya dapat mengutip sebuah berita.

Adapun, isi biasanya berisi tentang analisis kita atau pendapat kita tentang fakta-fakta yang kita tanggapi. Dalam hal ini, kita dapat membuat sebuah argumen pribadi yang didasarkan pada data-data pendukung yang telah kita kumpulkan. Kemudian, kita juga dapat mengutip pendapat para pakar atau menggunakan teori para pakar sebagai ‘pisau’ analisis. Sedangkan, untuk membuat penutup, maka kita dituntut untuk membuat sebuah kesimpulan dari tulisan kita. Penutup biasanya juga berisi saran dari kita terkait dengan persoalan yang kita tanggapi.

Mengenai panjang tulisan opini di media massa, setiap koran biasanya mempunyai kriteria tersendiri. Panjang tulisan opini koran lokal misalnya, tentu akan berbeda dengan panjang opini koran nasional. Namun demikian, sebaiknya kita membuat tulisan yang panjangnya sekitar 700-1000 kata.

Setelah tulisan opini selesai kita buat, sebelum kita mengirimkannya ke media massa, sebelumnya kita wajib melakukan editing atau mengedit tulisan kita. Tujuannya tak lain adalah untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam tulisan kita, baik terkait dengan ejaannya, bahasanya, maupun panjang pendeknya kalimat maupun paragraf.

Tips agar tulisan kita dimuat di Media Massa

Ada beberapa tips agar tulisan kita mudah untuk dimuat di media massa, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Topik atau tema yang diangkat harus aktual. Bagi media besar seperti kompas atau republika, waktu menjadi hal yang sangat penting. Berita yang disajikan adalah berita teraktual. Berita hari ini akan menjadi basi buat besok Oleh karena itu, jika ingin mengirimkan artikel opini ke media yang besar, pastikan bahwa topik atau tema yang kita angkat merupakan isu aktual yang masih hangat dibicarakan.

2. Argumen atau sudut pandang yang baru. Selain topik yang aktual, argumen atau sudut pandang merupakan hal yang penting. Walaupun topik yang kita angkat merupakan topik yang aktual, namun jika kita tidak memberikan argumen dan sudut pandang yang baru, kemungkinan besar artikel akan ditolak

3. Cara penyajian yang ringkas dan padat. Artikel untuk media masa berbeda dengan tulisan karya ilmiah. Tak perlu penjelasan berkepanjangan dan teori yang macam-macam. Cukup berikan satu atau dua teori dan berikan argumen yang ringkas dan mudah difahami. Jangan gunakan kalimat yang terlalu panjang. Lebih baik kalimatnya pendek-pendek.

4. Bahasa yang renyah, mudah dicerna, serta redaksi yang baik. Jangan menggunakan bahasa yang bertele-tele untuk menulis di media. Gunakan bahasa-bahasa yang populer. Jangan menggunakan istilah-istilah ilmiah yang sulit difahami. Selain itu, bagusnya redaksi juga sangat berperan. Pastikan tulisan menggunakan ejaan yang benar dan tanda baca yang tepat. Untuk memudahkan redaktur media mengedit tulisan kita. Bahasa yang berbelit-belit dan tanda baca yang acak-acakan, pasti langsung akan disingkirkan.

5. Gunakan sumber kutipan yang jelas. Jika mengutip pendapat atau perkataan seseorang, tulis dengan jelas. Kutipan argumen yang tidak jelas akan membuat pembahasan terkesan asal-asalan. Namun jangan terlalu banyak menggunakan kutipan. Karena akan terkesan kita hanya mengumpulkan pendapat dan argumen, tanpa disertai diskusi dan pembahasan. Gunakan kutipan secukupnya saja.

6. Alinea tidak terlalu panjang. Artikel yang dimuat di media, biasanya menggunakan alinea yang tak terlalu panjang. Jika alinea tulisan kita sudah agak panjang, sebaiknya buat alinea baru. Jangan teruskan menulis di alinea tersebut. Alinea yang terlalu panjang dan banyak pembahasan dalam satu alinea, akan membuat orang malas membacanya.

7. Gunakan judul yang singkat dan menarik. Dalam penulisan judul, sebaiknya kita menggunakan kata- kata atau istilah-istilah yang pas dengan konteks, tidak kaku dan tidak terlalu panjang karena judul yang tidak menarik bisa membuat si redaktur media yang bersangkutan tak tertarik sama sekali untuk membacanya.

8. Panjang artikel antara 700-1000. Sekali lagi, jangan mengirimkan tulisan yang terlalu panjang. Karena artikel yang dimuat di media massa biasanya hanya berkisar antara 700-1000 kata saja.
———————————————————-
http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2012/08/31/kiat-menulis-di-media-massa-483370.html

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->