Psikologi Menulis

Psikologi Menulis

“Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan. Menulis membuat saya merasa punya jiwa.” — John Mulligan

John Mulligan (49) dikenal sebagai seorang veteran yang berhasil menulis sebuah novel. Pengalaman di medan perang ternyata membuat kondisi psikisnya terganggu. Hingga suatu kali mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop menulis Maxine Hong Kingston. Maxine menganjurkan kepadanya untuk mengungkapkan pengalaman traumatis yang dialaminya dalam bentuk tulisan. Dan siapa yang menyangka Mulligan akhirnya mampu berdamai dengan dirinya, Ia memindahkan pengalaman buruk selama di medan perang ke dalam tulisan.

Menulis ternyata bukan sekedar media untuk menuangkan ide ataupun gagasan. Sebagai sebuah sarana terapi, menulis ternyata berguna untuk meningkatkan kesehatan, mengokohkan kekuatan fisik, dan menjernihkan mental. Logikanya, pada saat menulis orang tersebut berarti tengah mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional sehingga otak kanan bebas mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Dari sinilah, manfaat menulis bagi kesehatan fisik dan mental tercipta.

Selain itu, kegiatan menulis yang dilakukan secara rutin ternyata mampu memperbaiki kualitas hidup seseorang. Nancy Morgan, seorang penulis klinis, menyimpulkan bahwa terapi dengan menulis untuk mencurahkan rasa ketakutan mendalam tentang penyakit, memiliki efek positif bagi penderita kanker. Cara menulis ekspresif dapat memperbaiki kualitas hidup mereka dan terbukti separuh pasien yang menerapkannya ternyata dapat mengubah cara berpikir mereka tentang penyakit yang diderita.

Studi lain dilakukan oleh James W. Pennebaker, seorang guru besar psikologi University of Texas. Hasil penelitian selama 15 tahun yang dituangkan dalam buku “Opening Up : The Healing Power of Expressing Emotions” mengungkapkan setidaknya ada tiga manfaat menulis, yakni :

1. Menulis dapat meningkatkan kekebalan tubuh,

2. Bercerita lewat tulisan, dapat menyelesaikan separuh masalah
psikis,

3. Menulis sebagai katarsis (pelepasan emosi/ketegangan).

Pennebaker juga menemukan bukti bahwa sel-sel T-limfosit para mahasiswanya menjadi lebih aktif dalam rentang waktu enam pekan setelah mereka menulis peristiwa-peristiwa yang menekan dan yang alami. Satu indikasinya terletak pada stimulasi sistem kekebalan tubuh. Studi-studi lain juga menunjukkan bahwa setelah mengikuti latihan menulis orang cenderung lebih jarang mengunjungi dokter, bekerja lebih baik dalam tugas sehari-hari, dan memperoleh skor yang lebih tinggi dalam uji psikologi.

Hal tersebut diamini pula oleh Hernowo. Menurut penulis buku “Andaikan Buku Sepotong Pizza” ini, dengan menulis bisa digunakan sebagai terapi mental. Psikosomatis, gangguan psikis yang tampil dalam bentuk gejala-gejala fisik, seperti kepala pening, demam, nyeri tulang, dan mungkin flu akan berangsur-angsur hilang ketika Anda menuliskan apa yang menjadi beban pikiran Anda! Masih tidak percaya? Coba lihat pengalaman beberapa penulis berikut ini.

Gatut Susanta, mengidap beberapa jenis penyakit yakni hepatitis, gagal ginjal, pengentalan darah, penyempitan pembuluh otak, dan infeksi kandung kemih. Media Indonesia (tanggal 24 Juli 2008) memberitakan bahwa penyakit yang dideritanya sejak Februari 2005 tersebut sembuh total dengan menulis setiap hari. Dengan kegiatan menulis membuat Gatut merasa tenang, menerima dengan ikhlas apa yang dialami, mensyukuri yang ia dapat, dan memberikan semangat luar biasa untuk sembuh. Gatut akhirnya sembuh dari penyakitnya dan berhasil menulis lima belas buku!

Demikian pula dengan Asma Nadia, penulis senior di Forum Lingkar Pena, mengalami gegar otak pada usia tujuh tahun, sakit jantung, paru-paru, mempunyai lima tumor, dan empat belas giginya harus dicabut. Asma sempat tidak bisa meneruskan kuliahnya karena sakit-sakitan. Faktanya apa yang masyarakat lihat sekarang? Asma Nadia dikenal sebagai penulis produktif yang sehat secara fisik dan telah menulis sebanyak lima puluh buku!

Nah, jika penyakit berat saja bisa disembuhkan melalui terapi menulis. Maka apalagi yang membuat kita ragu untuk menulis ketika kesedihan, kegalauan, dan kekalutan pikiran datang menghampiri? Mengutip kata-kata Paulo Coelho dalam The Al Chemist, “tulislah segala kesedihan (perasaan) yang mengganggu dalam selembar kertas dan melarungnya ke sungai, niscaya kesedihan atau kekuatiran kita akan sirna”. (blog.akusukamenulis)
—————————————————-
Sumber: http://akusukamenulis.wordpress.com/2011/09/29/menulis-itu-menyehatkan/

SHARE THIS:

Komentar

Leave a Reply

error: Content is protected !!
mautic is open source marketing automation -->